Menuju Sejarah

Selamat Datang di Borobudur

Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan menyampaikan narasi dan penjelasannya sebagai apresiasi untuk mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali bangunan ini untuk pariwisata merupakan kesempatan yang menyenangkan dalam wisata tematik Borobudur.

Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan mengenal Candi Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, sebagai apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur yang ada di Indonesia.

Pemandangan candi Borobudur dari bukit Dagi saat pagi hari.
adalah candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan monumen ini. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi wisata superprioritas. Dibukanya kembali Candi Borobudur setelah pandemi merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan Borobudur dalam wisata tematik Borobudur. Wisata tematik saat ini merupakan momentum yang sangat penting sebagai salah satu upaya untuk mengetahui narasi panduan wisata di Borobudur dan kawasannya.

Berada di Borobudur

Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi kurang lebih 99 kilometer di sebelah barat daya Semarang, 86 kilometer di sebelah barat Surakarta, dan 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta. Materi cerita dan penjelasan yang disampaikan untuk mengenal lebih dekat candi Borobudur yang mempunyai arti luas tentang kebudayaan nenek moyang Indonesia. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri membaca dan mengerti yang ada didalam sejarah bangunan suci bagi umat Buddha. Memungkinkan untuk belajar tentang arti dan bentuk arsitektur bangunan Borobudur yang merupakan peninggalan kebudayaan sejarah masa lalu.

Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Disampaikan bahan materi narasi dan penjelasan dikutip dari sumber yang relevan dan terpercaya yang dirangkum dalam materi yang sederhana, dengan mengurangi beberapa hal untuk lebih mudah dipahami dan dimengerti dalam menyimak materi tentang bangunan Candi Borobudur. Menjelajahi sejarah keberadaan Borobudur sebagai candi Buddha.

Candi Borobudur dibangun diatas bukit dan terletak pada dataran yang dikeliling oleh Gunung Sundoro dan Sumbing di sebelah barat laut, Gunung Merbabu dan Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utara terdapat bukit Tidar yang dipercaya sebagai paku pulau Jawa dan di sebelah selatan dibatasi oleh jajaran perbukitan Menoreh sebagai legenda arsitek pembangun berdasar pada dongeng masyarakat, serta terletak pada pertemuan antara Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.

Disebutkan di masa lalu bukit yang sangat besar berubah menjadi bentuk bukit kecil dengan nama Tidar. Sebagai paku besar untuk daerah dan tempat yang disebut Jawa, tempat yang masih asing, harus dipaku di bumi untuk dapat sebagai tempat kehidupan. Saat ini sekitar lima belas kilometer di sebelah selatan bukit Tidar, kebudayaan Jawa Candi Borobudur dibangun.

Candi Borobudur adalah candi Buddha dengan bentuk arsitektur yang terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relef dan mempunyai 504 arca Buddha, yang menjadikan candi Borobudur menjadi monumen terbesar dengan koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.

Candi Borobudur
pemandangan alami dari Bukit Dagi sebelah barat laut di pagi hari dengan latar belakang perbukitan menoreh.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.

Selain candi Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu yang dibangun berdekatan. Pada masa penemuan dan pemugaran ditemukan dua candi Buddha lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon yang letaknya di sebelah timur dan dipercaya ketiga candi Buddha tersebut terletak dalam satu garis lurus. Berdasarkan cerita dongeng penduduk, dulu terdapat jalan berlapis batu yang menghubungkan ketiga candi, Borobudur, Pawon dan Mendut.

Masih dalam penelitian tentang adanya jalan beralas batu sebagai jalan penghubung ketiga candi tersebut. Para ahli menduga memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini. Ketiga candi ini (Borobudur – Pawon - Mendut) memiliki kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini, akan tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui secara pasti. Sekitar candi Mendut dan Pawon, masih berada di sekitar Borobudur ditemukan beberapa peninggalan purbakala, di antaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yang menunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian tempat tinggal. Temuan-temuan purbakala di sekitar Borobudur disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur, yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra Raksa.

Ditemukan juga, tidak jauh di sebelah utara Candi Pawon reruntuhan bekas candi Hindu yang disebut Candi Banon. Pada candi ini ditemukan beberapa arca dewa–dewa utama Hindu dalam keadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Batu-batu asli Candi Banon sangat sedikit yang ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan rekonstruksi. Pada saat penemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia (kini Jakarta) dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

koridor imajiner tiga candi
candi Borobudur, candi Pawon, dan candi Mendut terbentang dalam satu garis lurus yang menunjukan kesatuan perlambang.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Danau Kuno

B  o  r  o  b  u  d  u  r
Seperti pada umumnya bahwa candi banyak dibangun di atas tanah yang datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (869 ft) dari permukaan laut dan 15 m (49 ft) di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat dikalangan arkeolog pada abad ke-20; dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.

Pada 1931, seorang seniman dan pakar arsitektur candi Hindu - Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa dataran Kedu dahulunya adalah sebuah danau, dan candi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai dijelaskan dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.

Borobudur bunga teratai
dibangun melambangkan kelopak bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau dengan makna simbolis bahwa Buddha akan lahir.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Akan tetapi teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini banyak menuai bantahan dari para arkeolog. pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau purba. 

Sementara itu pakar geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur didekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba dilingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp. 

Ketinggian permukaan danau purba ini naik-turun berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan bukti menunjukkan bahwa dasar bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14. Aliran sungai dan aktivitas vulkanik diduga memiliki andil turut mengubah bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak cukup dekat dan masih aktif.

Tiga teras melingkar Arupadhatu.
Borobudur dengan tiga teras melingkar yang diatasnya dihiasi oleh deretan stupa-stupa.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Borobudur adalah candi, kuil Budha berbentuk stupa yang didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Chandi Borobudur.
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relif dan terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief biografi Buddha.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.

Para peziarah masuk melalui sisi timur mulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan galeri ukiran relif sebanyak 1.460 panil relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Borobudur diterlantarkan

Borobudur tersembunyi dan tidak digunakan sebagai tempat peribadatan bagi umat Budha selama beberapa abad dan terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga pada waktu itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui secara pasti, dikarenakan bencana meletusnya Gunung Merapi diduga sebagai penyebab utama Borobudur diterlantarkan sehingga bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha.

Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini. Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat bahwa candi Borobudur mulai ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15. Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan.

Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Jawa), monumen ini merupakan faktor kemalangan bagi Mas Dana, yang memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan dihukum mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram), cerita yang berhubungan dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi chandi ini pada 1757. Meskipun tabu yang melarang orang untuk mengunjungi chandi ini, bahwa Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan yaitu arca buddha yang terdapat di dalam stupa berlubang. Pada waktu kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang datang dan mengunjungi situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.

Penemuan kembali

Pemerintahan Inggris pada tahun 1811 sampai 1816, menyebutkan telah menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat yang sangat istimewa terhadap sejarah pulau Jawa. Ia banyak mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah dan kebudayaan masyarakat Jawa yang dicatat sebagai bagian dari perjalanan keliling Jawa. Pada waktu kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen yang pernah hilang.

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca Buddha didalam stupa utama.

Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang diselesaikan pada 1859.

Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.

Penghargaan atas situs ini mulai tumbuh dan untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata bagi penjarah candi, dan kolektor "pemburu artefak". Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca Buddha terlalu berat dan besar, karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen.

Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.



Gapura ukiran kala makara.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. 

Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi istilah candi juga digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu - Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian.

Pemugaran

Candi Borobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini.

Pada 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.

Pada 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu lain di sebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, monumen ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.

Pemugaran dilakukan pada kurun 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama di habiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak.

Rekonstruksi chatra
Payung susun tiga pemugaran candi Borobudur oleh Van Erp.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan proposal lain yang disetujui dengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, ia bahkan dengan teliti merekonstruksi chattra (payung batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur.

Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Kini mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tiga tersimpan di Museum Karmawibhangga.

Borobudur restorasi Van Erp
Borobudur setelah restorasi Van Erp's tahun 1911. chhatra Pinnacle stupa induk.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur, Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkan patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.

Pemugaran kecil–kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960–an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada masyarakat internasional untuk pemugaran besar–besaran demi melindungi monumen ini.

Proyek Pemugaran

Pada 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982. 

Pemasangan pondasi beton bertulang.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur, Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Pondasi diperkukuh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. 

Pemasangan pipa pvc untuk drainase.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Penanaman beton dan pipa PVC, system drainase pada pemugaran tahun 1973. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. 

Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. 

Selamat Datang di Candi Borobudur.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur
candi Buddha, salah satu monument terbesar di dunia.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi istilah candi juga digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu - Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian).

Sumber: materi Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.
KUNJUNGI PROFIL
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments

Popular Posts