Danau Borobudur
Borobudur - Danau Purba
Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan menyampaikan narasi dan penjelasannya sebagai apresiasi untuk mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali bangunan ini untuk pariwisata merupakan kesempatan yang menyenangkan dalam wisata tematik Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan mengenal Candi Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, sebagai apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur yang ada di Indonesia.
![]() |
Borobudur bunga teratai Menurut filosofi Budha Borobudur dibangun melambangkan kelopak bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau dengan makna dan arti simbolis bahwa Buddha akan lahir. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan monumen ini. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi wisata superprioritas.
Dibukanya kembali Candi Borobudur setelah pandemi merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan Borobudur dalam wisata tematik Borobudur. Wisata tematik saat ini merupakan momentum yang sangat penting sebagai salah satu upaya untuk mengetahui narasi panduan wisata di Borobudur dan kawasannya.
Berada di Borobudur
Candi Borobudur merupakan situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi kurang lebih 99 kilometer di sebelah barat daya Semarang, 86 kilometer di sebelah barat Surakarta, dan 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta.
Materi cerita dan penjelasan yang disampaikan untuk mengenal lebih dekat candi Borobudur yang mempunyai arti luas tentang kebudayaan nenek moyang Indonesia. Hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri membaca dan mengerti yang ada didalam sejarah bangunan suci bagi umat Buddha. Memungkinkan untuk belajar tentang arti dan bentuk arsitektur bangunan Borobudur yang merupakan peninggalan kebudayaan sejarah masa lalu.
Narasi sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Disampaikan bahan materi narasi dan penjelasan dikutip dari sumber yang relevan dan terpercaya yang dirangkum dalam materi yang sederhana, dengan mengurangi beberapa hal untuk lebih mudah dipahami dan dimengerti dalam menyimak materi tentang bangunan Candi Borobudur. Beberapa penjelasan tentang adanya danau kuno yang berhubungan dengan pembangunan Borobudur.
Sekitar Candi Borobudur
Pada masa lalu, pulau yang disebut terpencil adalah pulau Jawa, diceritakan pulau yang mengambang di lautan, sehingga harus disandarkan dan dipaku ke pusat bumi sebelum bisa dihuni. Paku besar yang menjadi sebuah bukit kecil, yang disebut bukit Tidar, terletak di bagian utara. Dan terletak hanya sekitar lima belas kilometer menuju ke sebelah selatan bukit Tidar adalah Chandi Borobudur.
Dataran kedu yang subur nan hijau, daerah yang hampir di semua wilayahnya dikelilingi oleh barisan alam pegunungan dan seolah-olah untuk memperindah dan mempercantik pemandangan, dengan dua pasang rangkaian gunung berapi yang menjulang tinggi ke angkasa: gunung Merapi (2.911 m) dan gunung Merbabu (3.142 m) berada di timur laut, serta gunung Sumbing (3371 m) dan gunung Sindoro (3135 m) di sebelah barat laut. Memandang ke sisi barat dan selatan dataran ditutup oleh rantai perbukitan yang panjang, yang membentuk kaki langit berbatu dengan masa menjulang dengan bentuk tak terbatas. Oleh karena itu disebutkan 'Jajaran perbukitan Menoreh', menoreh yang berarti 'menara'.
Disebutkan wilayah di sekitar 'Paku Jawa', yang lebih dikenal sebagai 'Dataran Kedu', merupakan wilayah yang membentuk pusat geografis pada pulau ini. Terkenal dengan kesuburannya tanah lahan yang ekstrim, dan penduduk yang sangat rajin, menjelaskan mengapa pulau ini sering disebut "Taman Jawa".
Sudut tenggara dataran Kedu adalah satu-satunya dataran yang tidak terhalang oleh barisan pegunungan, rantai pegunungan Menoreh membelok ke selatan sebelum mencapai kaki gunung Merapi. Dan melalui jalur inilah sungai-sungai didaerah Kedu meninggalkan dataran dan mengalir ke Samudera Hindia. Dibatasi oleh dataran lereng penggunungan di sebelah selatan, kedua sungai mengalir bersama, kemudian sungai Progo membawa air menuju ke laut di sepanjang pegunungan Menoreh yang membelok ke selatan. Daerah di sekitar pertemuan sungai Progo dan Elo pada zaman dahulu merupakan tempat suci yang sangat penting.
![]() |
Borobudur dari bukit Dagi. Pemandangan Chandi Borobudur dari barat laut, Bukit Dagi. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Sejumlah besar monumen di dataran Kedu didirikan di sini. Tempat-tempat suci Hindu dan Buddha, bisa dikatakan, dikemas dan dibangun berdekatan dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, bangunan candi Buddha utama di daerah ini adalah Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan komplek Candi Ngawen yang terdiri dari lima struktur bangunan.
Tiga cagar budaya pertama yang dibangun telah membentuk satu komplek juga, meskipun didirikan pada jarak yang cukup jauh satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Candi Borobudur ke Candi Mendut melalui Candi Pawon menunjukkan kesatuan perlambang. Tata letak seperti ini, bagaimanapun juga, tidak ditemukan di Borobudur. Candi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, sedangkan Candi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
![]() |
Koridor imajiner jalan penghubung tiga candi, Borobudur, Pawon dan Mendut. sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalan penghubung sebagai jalur prosesi keagamaan. Ditemukannya bekas peninggalan yang berupa jalan beralas batu yang berada di sebelah timur desa Borobudur, dahulu diduga merupakan bekas jalan penghubung antara ketiga candi. Komposisi kesatuan perlambang yang luar biasa telah membuat banyak perkiraan tentang hubungan antara Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut. Candi Borobudur tidak memiliki ruang, tidak ada tempat untuk peribadatan. Kemungkinan besar itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Candi Pawon yang sangat kecil memiliki ruang didalamnya, tetapi tidak ditemukan arca dewa yang mungkin digunakan sebagai objek pemujaan.
Asumsi bahwa peziarah harus melewati Candi Pawon dalam perjalanannya dari Candi Mendut ke Candi Borobudur melewati sepanjang jalur prosesi ritual mungkin menunjukkan bahwa Candi Pawon adalah sebagai pusat pemberhentian dalam perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah di Candi Mendut, Candi Pawon digunakan sebagai tempat untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Candi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dahulunya adalah sebuah danau besar. Penelitiannya menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, mitos bunga teratai ini diartikan di mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk bangunan menggambarkan kelopak teratai dan kelopak bunga ditengah putik bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit yang menunjukkan teratai mengambang di permukaan air.
Danau Borobudur
Seperti candi pada umumnya, candi Borobudur dibangun di atas danau purba yang mengering. Para arkeolog memberikan pendapat berdasarkan dari beberapa penelitian menjelaskan bahwa candi Borobudur dibangun di atas permukaan air danau purba yang telah mengering. Hipotesis tentang keberadaan danau purba ini menjelaskan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan berada di tengah danau. Keberadaan danau purba dijelaskan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau di tengah danau. Dataran Kedu dahulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Dahulu disebutkan dataran Kedu adalah danau, dan menurut agama Buddha Borobudur melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan air, dalam filosofi buddha mempunyai arti bahwa Buddha akan lahir.
Disebutkan bahwa sekitar Borobudur adalah daratan kering, bukan danau purba yang menurut ahli geologi dengan menunjukkan bukti, endapan sedimen lumpur dalam penelitian stratigrafi sedimen dan analisis sampel keberadaan danau purba di sekitar Borobudur. Aliran sungai dan aktivitas vulkanik mempunyai peranan penting dalam mengubah bentang alam dan topografi lingkungan. Disebutkan Gunung Merapi berada dekat dengan Borobudur dan masih aktif sejak dulu.
Danau Borobudur. Candi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
![]() |
Genangan air Borobudur. Identifikasi dan ilustrasi Chandi Borobudur dengan bunga teratai yang mengambang di tengah danau tergenang air. sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan air atau danau.
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Sangat luar biasa dan mengesankan Chandi Borobudur yang dibangun mengapung diatas sebuah danau. Tanah berlumpur berair menggenang yang memang sebenarnya ada sebuah danau di dekat chandi Borobudur. Perdebatan tentang hipotesis sebuah danau yang disebutkan oleh seorang ahli yang bernama Nieuwenkamp, mendapatkan respon dengan adanya penyelidikan geologis lebih lanjut di daerah sekitar bangunan monumen chandi Borobudur yang menghasilkan beberapa bukti lebih lanjut yang mendukung hipotesis tersebut, meskipun penelitian itu tidak berkaitan dengan seberapa luas danau tersebut. Dalam hal ini, kesimpulan akhir dalam penelitian ini masih menunggu penelitian yang lebih luas dan spesifik.
Menurut legenda ditanah Jawa, diceritakan bahwa daerah yang dikenal dan disebut sebagai dataran Kedu adalah tempat wilayah yang dianggap suci dan termashur dalam kepercayaan orang Jawa, bahkan disanjung sebagai ''Taman pulau Jawa'' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Gunadharma, diketahui namanya lebih berdasarkan pada cerita dongeng dan legenda Jawa, tentang perbukitan Menoreh.
![]() |
Perbukitan Menoreh dan stupa. Dengan legenda Gunadharma ialah arsitek Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Candi Borobudur dibangun menurut legenda arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa, bukan berdadarkan pada prasasti tertulis. Legenda Gunadharma dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh, bentuk hidung, dagu dan tubuh yang menyerupai orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.
Candi Borobudur berbentuk piramida berundak. Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Buddha stupa yang dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Buddha Mahayana, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari wangsa Syailendra. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Seni Arsitektur Borobudur
Candi Borobudur yang berbentuk piramida berundak yang dipadukan dengan stupa merupakan mahakarya seni rupa agama Buddha Indonesia, sebagai salah satu puncak pencapaian nilai keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
![]() |
Borobudur dengan bentuk Mandala. merupakan lambang alam semesta kosmologi agama Buddha. sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Dalam pembangunan candi Borobudur menggunakan rancangan dengan satuan ukur yang disebut tala, yaitu ukuran panjang wajah manusia yang diambil dari ujung garis rambut yang ada di dahi sampai dengan ujung dagu, atau mengambil ukuran jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking pada waktu telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. Ukuran pada satuan ini lebih bersifat relatif dan ada sedikit perbedaan diantara masing-masing individu, tetapi dalam bangunan Borobudur satuan ini bersifat tetap.
Dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 1977, menjelaskan tentang ukuran rasio perbandingan angka yaitu 4:6:9 yang digunakan pada bangunan candi Borobudur. Penggunaan ukuran rasio perbandingan ini memungkinkan bagi arsitek perancang Borobudur, hal ini untuk lebih menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal bentuk geometri perulangan yang disebut swa-serupa. Dalam merancang Borobudur ukuran perbandingan rasio matematis dapat ditemukan juga dalam rancang bangun dua candi lain yang berada disebelah timur yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon.
Arkeolog yakin bahwa satuan ukur perbandingan rasio ini memiliki fungsi dan makna dalam penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal ini mempunyai persamaan dengan candi Angkor Wat yang berada di Kamboja. Secara umum struktur bangunan. Borobudur dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian dasar (kaki), bagian tubuh, dan puncak. Pada dasar atau kaki mempunyai ukuran 123 × 123 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi sekitar 4 meter (13 ft). Pada tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 meter (23 ft) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 meter (6.6 ft), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter (115 ft) dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter (138 ft) .
Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya.
![]() |
Lorong dinding relif Rupadhatu. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara Lorong koridor dengan galeri dinding berukir relief. Sebuah arca Buddha di dalam stupa.
Konsep Rancang Bangun
Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya. Arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang.
Tahapan pembangunan Borobudur
1. Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti kurang lebih diperkirakan kurun 750 M dan 850 M.
Tahap pertama Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.
2. Tahap kedua
Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
Tahap kedua Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
3. Tahap ketiga
Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar.
Tahap ketiga Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikan dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak runtuh keluar, serta menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.
4. Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.
Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
Diilhami gagasan dharma dari India: stupa dan mandala, dipercaya merupakan kelanjutan unsur lokal struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dalam periode prasejarah Indonesia. Perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan mencapai Nirwana dalam ajaran Buddha. Sepuluh pelataran pada bangunan candi Borobudur menggambarkan filsafat mazhab Mahayana secara bersamaan berhubungan dengan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 meter (404 ft) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.
Pada tahun 1885, secara tidak disengaja ditemukan struktur tersembunyi di kaki Borobudur. Kaki tersembunyi ini terdapat relief yang 160 di antaranya adalah berkisah tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief. Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran monumen. Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab India mengenai arsitektur dan tata kota. Alasan penambahan dan pembuatan kaki tambahan, dilakukan secara teliti dengan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:
Kamadhatu
Bagian kaki melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara dibuka sehingga dapat dilihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.
Rupadhatu
Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi.
Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan. Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujur sangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran.
Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang lubang seperti dalam kurungan.
![]() |
Teras - teras stupa Borobudur. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Struktur Bangunan
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adi Buddha'. Padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu.
Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan kesunyian dan ketiadaan sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.
Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung. Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara.
Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Namun, teknik konstruksi mirip dengan candi lain di Jawa. Tanpa ruang-ruang dalam yang terlihat di kuil-kuil lain, dan dengan desain umum yang mirip dengan bentuk piramida, Borobudur pada awalnya merupakan sebagai stupa, bukan sebuah kuil. Sebuah stupa dimaksudkan sebagai kuil untuk Sang Buddha. Terkadang stupa dibangun hanya sebagai simbol dalam agama Buddha. Sebuah kuil, di sisi lain, digunakan sebagai tempat ibadah. Melihat dari desain monumen menunjukkan bahwa Borobudur sebenarnya adalah sebuah kuil.
Desain
Borobudur dengan bentuk Mandala
Borobudur dibangun sebagai stupa besar tunggal dan, bila dilihat dari atas, mengambil bentuk mandala Buddha tantra raksasa, secara bersamaan mewakili kosmologi Buddha dan sifat pikiran.
Landasan asli adalah persegi, sekitar 118 meter di setiap sisi. Ini memiliki sembilan teras, yang enam lebih rendah adalah persegi dan tiga atas adalah lingkaran. Teras atas menampilkan tujuh puluh dua stupa kecil yang mengelilingi satu stupa pusat besar. Setiap stupa berbentuk lonceng dan dihiasi oleh banyak dekoratif. Patung- patung Buddha duduk di dalam stupa yang berlubang.
Desain Borobudur mengambil bentuk piramida berundak. Masa prasejarah Austronesia megalitik budaya di Indonesia telah dibangun beberapa gundukan tanah dan struktur piramida batu bertingkat yang disebut punden berundak seperti yang ditemukan di situs Pangguyangan dekat Cisolok, dan di Cipari dekat Kuningan.
Pembangunan piramida batu didasarkan pada kepercayaan asli bahwa gunung dan tempat tinggi adalah tempat tinggal roh leluhur. Bentuk bangunan punden berundak atau bentuk piramida berundak adalah desain dasar bangunan Borobudur, yang diyakini merupakan kelanjutan dari tradisi megalitik yang lebih tua yang tergabung dengan ide-ide dan simbolisme Buddha Mahayana.
Model arsitektur Borobudur dengan Tiga ranah spiritual itu melambangkan tiga "alam" dalam kosmologi Buddha, yaitu Kamadhatu (dunia hasrat), Rupadhatu (dunia bentuk), dan akhirnya Arupadhatu (dunia tanpa bentuk). Makhluk hidup biasa menjalani hidup mereka pada tingkat terendah, alam keinginan. Mereka yang telah membakar semua keinginan untuk melanjutkan keberadaan meninggalkan dunia keinginan dan hidup di dunia pada tingkat bentuk saja: mereka melihat bentuk tetapi tidak tertarik pada mereka. Akhirnya, seluruh Buddha bahkan melampaui bentuk dan mengalami realitas pada tingkat yang paling murni, paling mendasar, samudera nirwana tanpa bentuk. Pembebasan dari siklus Saṃsāra di mana jiwa yang tercerahkan tidak lagi melekat pada bentuk duniawi sesuai dengan konsep Śūnyatā, kehampaan sepenuhnya atau tidak adanya diri. Kāmadhātu diwakili oleh pangkalan, Rupadhatu oleh lima teras persegi (tubuh), dan Arupadhatu oleh tiga teras melingkar dan stupa besar paling atas. Fitur arsitektur antara tiga tahap memiliki perbedaan metafora. Misalnya, dekorasi persegi dan rinci di Rupadhatu menghilang menjadi platform melingkar polos di Arupadhatu untuk mewakili bagaimana dunia bentuk, di mana manusia masih melekat dengan bentuk dan nama-nama berubah menjadi dunia tanpa bentuk. Ibadat jemaat di Borobudur dilakukan dalam ziarah prosesi berjalan. Peziarah dipandu oleh sistem tangga dan koridor naik ke teras teratas. Setiap teras mewakili satu tahap pencerahan. Jalur yang memandu peziarah dirancang untuk melambangkan kosmologi Buddha.
Pada 1885, struktur tersembunyi di bawah bagian dasar tersebut secara tidak sengaja ditemukan. "Kaki tersembunyi" tersebut berisi relief sebanyak 160 yang di antaranya merupakan narasi yang menggambarkan tingkat Kāmadhātu yang sesungguhnya. Relief yang tersisa adalah panil dengan prasasti pendek yang tampaknya memberikan instruksi bagi para pemahat, yang menggambarkan adegan yang akan diukir. Basis sungguhan disembunyikan oleh basis penutup, yang tujuannya tetap menjadi misteri. Pertama kali dipikirkan bahwa pangkalan yang sebenarnya harus ditutup untuk mencegah runtuhnya bencana monumen ke dalam bukit. Ada teori lain bahwa dasar penutup ditambahkan karena pijakan tersembunyi asli tidak dirancang dengan benar, menurut Vastu Shastra buku kuno India tentang arsitektur dan perencanaan kota. Terlepas dari mengapa hal itu ditugaskan, dasar ruang bawah tanah dibangun dengan desain rinci dan teliti dan dengan pertimbangan estetika dan agama.
Tangga Borobudur melalui lengkungan Kala
Sebuah koridor sempit dengan relief di dinding.
Sedikit yang diketahui tentang Gunadharma, arsitek perancang Borobudur. Namanya diceritakan dari cerita rakyat Jawa dan bukan dari prasasti tertulis.
Arsitektur
Penggalian arkeologi ke Borobudur selama rekonstruksi menunjukkan bahwa penganut agama Hindu atau agama pra-India sudah mulai membangun struktur besar di bukit Borobudur sebelum situs itu disesuaikan oleh umat Buddha. Pondasinya tidak seperti struktur kuil Hindu atau Budha, dan karena itu, struktur awal dianggap lebih asli Jawa daripada Hindu atau Budha.
Unit dasar pengukuran yang digunakan selama konstruksi adalah tala, yang diartikan sebagai panjang wajah manusia dari garis rambut dahi ke ujung dagu atau jarak dari ujung jempol ke ujung jari tengah ketika kedua jari adalah membentang pada jarak maksimum mereka. Unit demikian relatif dari satu individu ke yang berikutnya, tetapi monumen memiliki pengukuran yang tepat. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1977 mengungkapkan temuan sering rasio 4:6:9 di sekitar monumen. Arsitek telah menggunakan rumus itu untuk menyusun dimensi geometri fraktal dalam desain Borobudur. Rasio ini juga ditemukan dalam desain Pawon dan Mendut, kuil Buddha di dekatnya. Arkeolog telah menduga bahwa rasio 4: 6: 9 dan tala memiliki signifikansi penanggalan, astronomi dan kosmologis, seperti halnya dengan kuil Angkor Wat di Kamboja.
Struktur utama dapat dibagi menjadi tiga komponen: dasar, tubuh, dan atas. Dasarnya adalah 123 m × 123 m dalam ukuran dengan 4 meter dinding. Tubuh terdiri dari lima teras persegi, masing-masing tinggi berkurang. Teras pertama diatur kembali 7 meter dari tepi pangkalan. Setiap teras berikutnya diatur kembali 2 meter, meninggalkan koridor sempit disetiap tingkat. Bagian atas terdiri dari tiga platform melingkar, dengan setiap tahap mendukung sederetan stupa berlubang, diatur dalam lingkaran konsentris. Ada satu kubah utama di tengahnya, yang puncaknya adalah titik tertinggi dari monumen, 35 meter di atas permukaan tanah. Tangga di tengah masing-masing dari keempat sisi memberikan akses ke atas, dengan sejumlah gerbang melengkung yang dijaga oleh 32 patung singa. Gerbang itu dihiasi dengan kepala Kala yang diukir di atas masing-masing dan Makara memproyeksikan dari setiap sisi. Motif Kala-Makara ini umumnya ditemukan di gerbang kuil-kuil Jawa. Pintu masuk utama berada di sisi timur, lokasi relief narasi pertama. Tangga di lereng bukit juga menghubungkan monumen ke dataran rendah.
Borobudur stupa
Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha.
Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia. Borobudur pada awalnya berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang lubang seperti dalam kurungan.
Struktur Bangunan
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adi buddha'. Padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu.
Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan kesunyian dan ketiadaan sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.
Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.
Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara. Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Borobudur berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.
Sumber: Materi Teknik Pemanduan Chandi Borobudur arisguide.
arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.
KUNJUNGI PROFIL
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.












Comments
Post a Comment